Kaleidoskop MotoGP 2020: Penuh Kejutan, dari Absennya Marc Marquez sampai Gebrakan Mandalika

Kaleidoskop MotoGP 2020: Penuh Kejutan, dari Absennya Marc Marquez sampai Gebrakan Mandalika

Pasarliga – Tahun 2020 akan segera berakhir dan MotoGP telah bersiap menyongsong musim baru yang diprediksi takkan kalah seru. Tim Bola.net pun melakukan kilas balik dan merekap momen-momen tak terlupakan sepanjang musim ini, yang sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Berbagai kejutan dari para pembalap, perpindahan rider dan keputusan-keputusan karier yang kontroversial, insiden kecelakaan mengerikan, hukuman berat yang diterima rider akibat kasus doping, serta persiapan Indonesia menjelang MotoGP 2021, sukses menghiasi dan mewarnai jalannya musim ini.

Berikut kaleidoskop MotoGP 2020 yang berisi momen-momen mengejutkan sepanjang musim. Simak ulasannya berikut ini yuk, Bolaneters!

Fabio Quartararo dan Valentino Rossi Tukar Tim di MotoGP 2021

Usai melihat suksesnya musim debut Fabio Quartararo pada 2019 dengan tujuh podium dan enam pole, pada akhir Januari lalu, Yamaha akhirnya memutuskan meletakkan rider Prancis tersebut di Monster Energy Yamaha pada 2021, untuk ditandemkan dengan Maverick Vinales. Dengan begitu, Valentino Rossi pun harus hengkang dari tim tersebut.

Rossi sendiri belum mau pensiun dan ingin balapan setidaknya untuk satu musim lagi. Usai menjalani negosiasi yang panjang, baik dengan Yamaha maupun Petronas SRT, pada September lalu akhirnya The Doctor dipastikan akan mengambil alih tempat Quartararo di tim asal Malaysia tersebut.

Tahun 2021 pun akan jadi pertama kalinya bagi Rossi membela sebuah tim satelit sejak membela Nastro Azzurro Honda di GP500 2001 lalu. Sayangnya, SRT meminta Rossi berhenti melanjutkan tradisi memboyong seluruh krunya. Tahun depan ia hanya akan membawa crew chief David Munoz, teknisi data Matteo Flamigni, dan pelatih balap Idalio Gavira.

Covid-19 Bikin MotoGP Jalani Musim Tak Biasa

Awalnya, MotoGP 2020 akan digelar dengan 20 seri sepanjang musim. Namun, pandemi Covid-19 yang merajalela di seluruh penjuru bumi membuat kejuaraan ini harus vakum selama beberapa bulan, dan merombak kalender balap habis-habisan.

Ketika Moto3 dan Moto2 sudah berada di Qatar untuk balapan usai uji coba pramusim sepekan sebelumnya pada pertengahan Maret, kelas MotoGP harus dibatalkan karena pemerintah setempat mendadak meluncurkan restriksi travel dari Italia. Alhasil, MotoGP harus menunggu sampai pertengahan Juli untuk kembali balapan.

Dorna Sports dan FIM pun akhirnya merilis kalender baru untuk MotoGP dan sisa musim Moto3 dan Moto2. Sebanyak 14 balapan pun digelar di sembilan trek berbeda. Uniknya, lima trek di antaranya menggelar dua pekan balap secara beruntun, yakni Jerez, Red Bull Ring, Misano, MotorLand Aragon, dan Ricardo Tormo. Portimao pun menjalani debut sebagai tuan rumah pada akhir musim.

Andrea Iannone Dilarang Balapan Selama 4 Tahun Akibat Doping

Pada 10 November 2020, Andrea Iannone dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dalam kasus doping yang melandanya sejak 17 Desember 2019. Seperti yang diketahui, sampel urinnya yang diambil di MotoGP Malaysia, 3 November 2019, terbukti mengandung drostanolone, substansi steroid terlarang menurut Agen Anti-Doping Dunia (WADA). Pengadilan disiplin FIM (CDI) menjatuhkan larangan balap selama 18 bulan dan Iannone diskualifikasi dari Malaysia dan Valencia.

Pada Februari lalu, Iannone dan tim pengacaranya berdalih substansi itu masuk ke dalam tubuhnya akibat kontaminasi daging selama di Asia. Mereka juga menyajikan bukti tes sampel rambut dalam sidang CDI yang membuktikan rider Italia itu tak mengonsumsi drostanolone selama lima bulan terakhir sebelum sampel urinnya diambil. Perkara pun makin panjang, karena Iannone dan WADA memutuskan lanjut saling seret ke CAS.

Iannone menuntut hukuman larangan balap selama 18 bulan dicabut, sementara WADA justru menuntut hukumannya diperpanjang jadi 4 tahun. Sidang pun digelar pada 15 Oktober lalu, dan pada 10 November, hasil sidang akhirnya keluar. CAS menepis pembelaan Iannone yang menyebut drostanolone masuk ke dalam tubuhnya akibat kontaminasi, dan mengabulkan tuntutan WADA untuk melarangnya ikut kompetisi apa pun selama empat tahun.

Hukuman ini pun terhitung sejak 17 Desember 2019, dan baru akan berakhir pada Januari 2024. Keputusan CAS ini juga mengartikan Iannone tak bisa mengajukan banding. Mengingat kini ia sudah menginjak usia 31 tahun, maka hukuman ini bisa dibilang otomatis telah mengakhiri kariernya sebagai pembalap dan atlet.

Marc Marquez: Kontrak Fantastis yang Dibuntuti Cedera Parah

Usai santer dikabarkan akan pindah ke Ducati Team pada 2021, Marc Marquez dan Honda secara mencengangkan mengumumkan kontrak baru mereka yang berdurasi empat tahun pada Februari lalu. Marquez pun menjadi rider MotoGP pertama yang mendapatkan kontrak sepanjang itu dalam sejarah Grand Prix.

Sayang, kabar baik ini tak berlanjut ketika MotoGP Spanyol digelar di Jerez pada 19 Juli. Start ketiga, Marquez memimpin balapan pada Lap 3 usai menyalip Vinales. Namun, pada Lap 5, ia sempat keluar lintasan dan kembali ke trek di posisi 16. Dalam 17 lap, ia secara menakjubkan kembali ke posisi 3. Saat hendak menyalip Vinales lagi, ia malah terjatuh keras di Tikungan 3.

Tubuh Marquez pun terguling-guling keras di area gravel. Tayangan ulang menunjukkan ban depan RC213V milik rider 27 tahun itu menghantam lengan atas kanannya. Usai diperiksa lebih detail, delapan kali juara dunia ini pun mengalami patah tulang humerus dan harus menjalani operasi dua hari setelahnya. Dua hari setelah operasi, ia kembali ke Jerez untuk coba turun di MotoGP Andalusia.

Namun, usai ikut sesi latihan ketiga (FP3), lengan Marquez memar dan bengkak. Ia pun memutuskan absen dan fokus kembali di Ceko. Tapi pada 3 Agustus, plat titanium yang ditanamkan pada lengannya patah saat ia coba membuka jendela rumah. Pada hari yang sama, ia harus operasi lagi. Pemulihan pun berjalan sangat panjang, hingga ia harus absen sampai akhir musim dan menjalani operasi ketiga pada awal Desember.

Perpindahan Tim, Keputusan Pensiun, dan Datangnya Para Debutan

Akan ada banyak rider yang berganti seragam di MotoGP 2021. Setelah Quartararo, rider yang berikutnya dipastikan pindah tim adalah Jack Miller, yakni ke Ducati Team untuk menggantikan Danilo Petrucci. Petrucci sendiri sempat kelimpungan mencari tim baru, sebelum akhirnya menerima tawaran ke Red Bull KTM Tech 3 demi jadi pengganti Miguel Oliveira.

Oliveira sendiri dipastikan pindah ke Red Bull KTM Factory Racing, menggantikan Pol Espargaro yang secara mengejutkan pindah ke Repsol Honda, mengambil alih slot Alex Marquez. Keputusan Honda ini bikin banyak orang geram, karena keputusan ini diambil bahkan sebelum Marquez menjalani satu balapan pun dalam debutnya di MotoGP.

Marquez sendiri bakal ditransfer ke LCR Honda untuk menggantikan posisi Cal Crutchlow, yang akhirnya memutuskan pensiun usai lama mempertimbangkan tawaran dari Aprilia Racing sebagai pengganti Iannone. Tahun depan, Crutchlow pun akan menjabat sebagai test rider Yamaha, menggantikan Jorge Lorenzo.

Di lain sisi, MotoGP juga akan kedatangan tiga debutan pada 2021. Jorge Martin akan menggantikan Miller di Pramac Racing, sementara Enea Bastianini dan Luca Marini, yakni juara dunia dan runner up Moto2 2020, akan bertandem di Esponsorama Racing. Uniknya, ketiga rider ini sama-sama akan mengendarai Ducati.

Kiprah Fabio Quartararo yang Apik namun Juga Anti-klimaks

Tujuh podium diraih oleh Fabio Quartararo sepanjang 2019. Sayangnya tak satu pun berupa kemenangan, meski ia sempat dua kali berduel sengit dengan Marc Marquez. Alhasil, kemenangannya pun jadi hal yang dinanti-nanti orang pada 2020. Ternyata, ia tak perlu menunggu lama, karena impiannya itu langsung terwujud di seri perdana, yakni di Seri Spanyol.

Kemenangan ini pun menjadi yang pertama bagi Quartararo di kelas tertinggi. Ia juga menjadi rider tim satelit Yamaha pertama yang mampu meraih kemenangan di era MotoGP (bergulir sejak 2002). Tak hanya itu, ia juga menjadi pembalap Prancis pertama yang menang di kelas para raja sejak Regis Laconi di GP Valencia 1999.

Sepekan sebelumnya, masih di Jerez, yakni di MotoGP Andalusia, Quartararo pun merebut kemenangannya yang kedua, lagi-lagi dengan cara yang dominan. Ia pun menjadi rider termuda kedua dalam sejarah (21 tahun 97 hari) yang mampu meraih dua kemenangan beruntun setelah Marc Marquez (20 tahun 154 hari) pada 2013.

Quartararo menang lagi di Catalunya, namun setelah itu performa El Diablo justru terus menurun dan kesulitan naik podium. Usai berada di puncak klasemen pembalap dalam sembilan seri pertama, tempatnya pun diambil alih Joan Mir di Seri Aragon, saat ia hanya finis ke-18 dan tak meraih satu pun poin. Pada akhir musim, ia malah terjun bebas ke peringkat 8.

Gebrakan Brad Binder, Kebahagiaan KTM

Dalam MotoGP Ceko, Brad Binder tiba tanpa status favorit. Namun, start dari posisi 7, tahu-tahu debutan Red Bull KTM Factory Racing ini naik ke posisi 3 dalam dua lap pertama. Dengan sabar, ia pun akhirnya menyalip Quartararo dan Franco Morbidelli, lalu melenggang sebagai pemimpin dengan margin lebar sampai garis finis.

Kemenangan ini pun jadi yang pertama bagi Brad Binder di kelas tertinggi. Ia juga jadi rider Afrika Selatan pertama yang mampu meraih kemenangan di era MotoGP. Tak hanya itu, ia juga jadi debutan pertama yang mampu meraih kemenangan di MotoGP sejak Marc Marquez di Circuit of The Americas, Austin, Texas, pada 2013.

Ini juga merupakan kemenangan perdana KTM di MotoGP, sejak turun sebagai tim pabrikan sepenuhnya pada 2017. Pabrikan Austria ini pun menjadi pabrikan non-Jepang dan non-Italia perdana yang mampu meraih kemenangan di kelas tertinggi (GP500/MotoGP) sejak Konig yang menang di Seri Yugoslavia pada 1973.

Keputusan Andrea Dovizioso yang Mencengangkan

Andrea Dovizioso dikenal sebagai rider yang paling setia pada Ducati Team. Bagaimana tidak? Ia bahkan membela Tim Merah sejak 2013, saat mereka ada di titik terendah. Bersama sang general manager, Gigi Dall’Igna, Dovizioso pun membuat Desmosedici kembali kompetitif di MotoGP, terbukti dari kesuksesannya jadi runner up pada 2017, 2018, dan 2019.

Namun, bukan rahasia pula bahwa Dovizioso dan Dall’Igna kerap cekcok sejak pertengahan 2019. Awalnya, Ducati membantah rumor ini, tapi perbedaan visi dan misi keduanya tampak mencolok dalam film dokumenter ‘Undaunted’ yang dirilis oleh Red Bull pada Februari lalu. Ditambah fakta Ducati ingin menggaet rider muda, hubungan mereka pun makin pahit.

Ducati sendiri sangat ingin menggandengkan Dovizioso dengan Miller pada 2021, dan negosiasi pun digelar. Tapi, diskusi berjalan sangat alot. Permintaan Dovizioso sejak 2013, yakni agar Ducati dan Dall’Igna memperbaiki performa Desmosedici di tikungan, kembali ditolak, yang membuktikan bahwa saran ‘Dovi’ sebagai rider tak didengarkan.

Alhasil, di sela pekan balap MotoGP Austria, rider Italia ini secara menggemparkan mengumumkan tak mau lagi membela Tim Merah pada 2021. Keputusan ini bikin kaget banyak pihak, termasuk Ducati sendiri, yang sangat ingin Dovizioso bertahan dan jadi pembimbing Miller. Namun, tampaknya Dovizioso sudah tak betah bekerja dengan pabrikan asal Borgo Panigale, Bologna, Italia itu.

Sama seperti Crutchlow, Dovizioso tadinya dapat tawaran jadi pengganti Iannone di Aprilia, namun menolak. Ia juga sempat ditawari kans menjadi test rider Yamaha, namun lagi-lagi menolak. Pada awal November lalu, ia akhirnya mengumumkan keputusan vakum dari MotoGP, memilih fokus pada proyek motocross, walau tak menutup kemungkinan akan kembali pada 2022.

Kecelakaan Hebat Austria, Bahan Renungan Peserta dan Penggemar

Di tengah ramainya kehebohan keputusan Dovizioso hengkang dari Ducati, insiden mengerikan terjadi dalam pekan balap yang sama, yakni MotoGP Austria di Red Bull Ring pada pertengahan Agustus lalu. Insiden ini melibatkan empat rider sekaligus, yakni Johann Zarco, Franco Morbidelli, Valentino Rossi, dan Maverick Vinales.

Insiden ini berupa kecelakaan hebat di Tikungan 2 pada Lap 9, ketika Zarco tiba-tiba mengubah garis balap ke kanan dalam kecepatan nyaris 200 km/jam, hingga ban belakangnya bertabrakan dengan ban depan Morbidelli yang ada di belakang. Keduanya terjatuh keras dan berguling-guling di area run off sisi kanan trek, dan motor mereka hancur lebur hingga balapan dihentikan sementara.

Namun, pemandangan paling mengerikan adalah saat Yamaha YZR-M1 milik Morbidelli dan Ducati Desmosedici GP19 milik Zarco yang hancur nyaris mengenai Vinales dan Rossi, yang kala itu berada di depan mereka dan tengah berbelok ke kanan di Tikungan 3 yang tajam dan menanjak. Beruntung, keempatnya selamat dari maut, dan Zarco ‘sekadar’ mengalami retak tulang scaphoid tangan kanan.

Usai balap, Morbidelli, Zarco, dan Rossi pun terlibat diskusi serius yang dilakukan secara privat, karena Morbidelli dan Rossi yakin aksi Zarco sangat berbahaya. Namun, saat suasana ‘panas’ di antara mereka mereda, seisi paddock MotoGP dibuat merenung dan diingatkan bahwa balap motor merupakan olahraga yang berbahaya, hingga keselamatan para rider merupakan hal utama.

Patahnya Dominasi Ducati di Tangan Miguel Oliveira dan KTM

MotoGP Styria menyajikan banyak aksi dan rekor mencengangkan. Rider Red Bull KTM Tech 3, Miguel Oliveira, membuat KTM bangga dengan memenangi seri kandang mereka. Usai Vinales mengalami kecelakaan yang mengakibatkan bendera merah, balapan pun diulang dan Oliveira start dari posisi 7. Ia start dengan sangat baik, langsung merangsek ke posisi 4 pada Lap 1.

Pada Lap 6, ia naik ke posisi 3 usai menyalip Mir. Sejak itu, ia menempel ketat Miller dan Espargaro yang bergantian memimpin. Oliveira pun dapat durian runtuh pada lap terakhir. Miller menyalip Espargaro di Tikungan 9, namun keduanya melebar sesampainya di Tikungan 10 alias tikungan terakhir. Oliveira melaju stabil, menyalip keduanya sekaligus, dan melewati garis finis terlebih dahulu.

Alhasil, Oliveira jadi rider Portugal pertama yang mampu memenangi balapan dan meraih podium di MotoGP. Tak hanya itu, kemenangan ini juga menandakan kemenangan perdana Tech 3 Racing sejak turun di MotoGP pada 2000 silam. Dengan hasil ini, KTM juga sukses mematahkan dominasi Ducati di Red Bull Ring, di mana Tim Merah berkuasa sejak 2016.

Tiga Rider Sempat Positif Terinfeksi Covid-19

Melangsungkan gelaran MotoGP di tengah pandemi Covid-19 memang tak mudah, apalagi mengingat para peserta dan staf harus bepergian dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Meski protokol medis yang ketat sudah dijalankan, masih ada celah bagi Covid-19 untuk menginfeksi beberapa penghuni paddock MotoGP, termasuk tiga rider berikut ini.

Pembalap pertama yang dinyatakan positif Covid-19 adalah Jorge Martin, yakni sepulangnya dari Moto2 Styria. Walau tak menunjukkan gejala terpapar Covid-19, Martin tetap dilarang turun dalam pekan balap Moto2 San Marino dan Emilia Romagna, serta menjalani isolasi mandiri di rumahnya yang ada di Andorra. Alhasil, peristiwa ini pun sangat memengaruhi kansnya merebut gelar dunia.

Rider ketiga yang terinfeksi Covid-19 adalah Valentino Rossi, sepulang dari pekan balap di Le Mans. Sesampainya di Tavullia, Italia, Rossi sama sekali tak keluar rumah. Dua hari setelahnya, ia bahkan menjalani tes PCR rutin dan hasilnya negatif. Namun, dua hari berikutnya, saat hendak berangkat ke Aragon, Rossi merasa tidak enak badan.

Pagi itu, sembilan kali juara dunia ini segera menghubungi dokter, yang langsung melakukan ‘tes PCR cepat’ yang hasilnya kembali negatif dan ‘tes PCR standar’ yang hasilnya positif. Alhasil, Rossi harus menjalani isolasi mandiri di rumah dan absen dari pekan balap MotoGP Aragon dan Teruel.

Iker Lecuona pun mengalami nasib serupa. Menjelang MotoGP Eropa, kakak Lecuona diketahui positif Covid-19. Meski ia sendiri negatif Covid-19, Lecuona harus isolasi mandiri di Andorra. Ia pun diharapkan bisa kembali di MotoGP Valencia. Saat hendak berangkat, ia menjalani tes PCR dan ternyata hasilnya positif. Alhasil, ia harus absen lagi di Valencia, termasuk di Portimao, Portugal.

Franco Morbidelli: Awalnya Underdog, Akhirnya Runner up

Tak pelak lagi nama Franco Morbidelli jarang disebut-sebut pada awal musim MotoGP 2020, apalagi usai sang tandem, Quartararo menggebrak dengan dua kemenangan di Jerez. Menjadi satu-satunya rider Yamaha yang mengendarai YZR-M1 versi 2019, khalayak ramai yakin tak banyak yang bisa diharapkan dari performa Morbidelli.

Podium perdananya di MotoGP, usai finis kedua di Ceko, bahkan tak cukup meyakinkan, sampai akhirnya rider Italia berdarah Brasil ini menang dengan gaya dominan di Seri San Marino. Sejak itu, ‘Franky’ mulai diperhatikan banyak orang. Menjelang akhir musim, ia kian kuat, membuktikan bahwa M1 versi 2020 yang dipakai Quartararo, Vinales, dan Rossi tak lebih unggul dari M1 versi 2019.

Morbidelli pun kembali menang di Teruel, dengan gaya dominan lagi usai Takaaki Nakagami jatuh pada lap perdana. Ia finis dengan keunggulan 2,2 detik atas Alex Rins. Morbidelli pun menyebut balapan itu bagai pengalaman spiritual, karena balapan sepanjang 23 lap hanya terasa sepanjang dua lap baginya.

Juara dunia Moto2 2017 ini pun menang lagi di MotoGP Valencia, usai berduel sengit dengan Jack Miller tepat di lap terakhir. Kemenangan ini pun membuat Morbidelli merangsek ke peringkat runner up di klasemen pembalap. Peringkat ini pun akhirnya ia kunci usai finis ketiga dan naik podium di Portimao.

Konsistensi Joan Mir dan Gelar Dunia usai Penantian Panjang

Sama seperti Morbidelli, tak banyak orang yang membicarakan Joan Mir pada awal musim, walau Suzuki menunjukkan tanda-tanda mengancam pada masa uji coba pramusim. Mir bahkan makin diragukan usai mengalami kecelakaan dan gagal finis di seri perdana, MotoGP Spanyol, dan MotoGP Ceko. Namun, hasil buruk ini seolah jadi ‘bahan bakar’ Mir untuk tampil lebih baik.

Dalam MotoGP Austria, Mir akhirnya meraih podium perdana usai finis kedua. Ia pun menggebrak di Styria, memimpin balapan selama 17 lap, sebelum kecelakaan Zarco vs Morbidelli terjadi dan mengakibatkan bendera merah. Saat restart, Mir start dari pole, namun ia tak punya ban depan tersisa, hingga terpaksa pakai ban yang sama. Ia pun harus puas finis keempat, melihat kemenangan direnggut oleh Oliveira.

Merasa jengkel layaknya habis ‘dirampok’, Mir kian panas di San Marino. Ia finis ketiga usai menyalip Rossi pada lap terakhir. Ia juga finis kedua di Emilia Romagna dan Catalunya. Ia sempat hanya finis ke-11 di Le Mans yang diguyur hujan, namun bangkit lagi di Aragon dan Teruel di mana ia finis ketiga, hingga akhirnya mengambil alih puncak klasemen dari Quartararo.

Rider Spanyol itu pun jadi rider dengan podium terbanyak, dan dapat ‘cap’ rider paling konsisten. Namun, ia sempat dicemaskan merebut gelar tanpa satu pun kemenangan. Keraguan orang pun langsung ia jawab di MotoGP Eropa, di mana ia akhirnya meraih kemenangan perdana. Sepekan setelahnya, yakni di Seri Valencia, ia sekadar finis ketujuh, namun sudah cukup membuatnya mengunci gelar dunia.

Gelar ini pun jadi gelar kedua Mir, mengingat ia juga juara dunia Moto3 2017. Gelar ini juga sangat berarti bagi Suzuki, karena Mir mempersembahkan gelar dunia perdana mereka di kelas para raja sejak Kenny Roberts jr di GP500 2000. Kini nama Mir pun tak hanya bersanding dengan Roberts jr, melainkan juga dengan Barry Sheene, Marco Lucchinelli, Franco Uncini, dan Kevin Schwantz.

Sirkuit Mandalika Masuk Kalender MotoGP 2021 Sebagai Cadangan

Pada 6 November lalu, FIM dan Dorna Sports akhirnya merilis kalender balap sementara MotoGP 2021, yang terdiri dari 20 seri seperti yang direncanakan untuk 2020 sebelum pandemi Covid-19. Uniknya, 19 seri sudah dapat trek yang mau jadi penyelenggara, namun ada satu seri yang masih belum ditentukan tanggal dan sirkuitnya.

Mengingat belum diketahui kapan Covid-19 berakhir, FIM dan Dorna Sports mengambil langkah antisipasi dengan menggaet Mandalika (Indonesia), Portimao (Portugal), dan Igora Drive (Rusia) sebagai ‘Reserve Grand Prix Venue’ atau sirkuit cadangan, yang berarti ketiga trek ini bisa jadi pengganti jika ada trek lain yang mengundurkan diri dari kalender balap.

Meski Mandalika baru menjadi cadangan di kalender balap MotoGP 2021, CEO MGPA (Mandalika Grand Prix Association), Ricky Baheramsjah, mengaku senang Dorna Sports mau memberikan kepercayaan besar kepada Mandalika dan MGPA. Ia pun berjanji pembangunan sirkuit akan selesai tepat waktu dan akan menyajikan gelaran megah.

“Kami harus fokus pada konstruksi dan berharap pandemi Covid-19 segera berakhir, mengingat kami ingin fans lokal dan internasional menikmati balapan dan destinasinya. Target dan fokus kami saat ini sudah jelas, yakni memastikan bahwa kami menyelesaikan sirkuit jalanan kami,” ungkapnya via MotoGP.com, Selasa (1/12/2020).

“Kami akan mempersiapkan eksekusi operasional untuk GP Indonesia pada 2021. Terakhir, kerja dan usaha keras kami adalah untuk penggemar balap di Indonesia. Mereka berhak menonton gelaran spektakuler ini di negeri sendiri, terutama dalam lingkungan bebas Covid-19 yang aman,” lanjut Ricky.

Pertamina Mandalika SAG Team Bakal Turun di Moto2 2021

Pada pertengahan Oktober lalu, Indonesia mendadak dihebohkan oleh kemunculan Mandalika Racing Team Indonesia (MRTI) yang mengklaim bahwa mereka akan menjadi tim balap Indonesia pertama yang turun di ajang Grand Prix, tepatnya di Moto2 2021, dengan cara melebur dengan tim yang sudah ada.

Usai main ‘rahasia-rahasiaan’ selama beberapa waktu soal tim mana yang akan digandeng, pada Jumat (4/12/2020), MRTI dan SAG Team akhirnya mengumumkan kerja sama mereka di Moto2 2021 dengan nama Pertamina Mandalika SAG Team. Thomas Luthi, juara dunia GP125 2005 dan dua kali runner up Moto2, dipastikan jadi salah satu ridernya karena sudah tanda tangan kontrak dengan SAG Team sejak September.

Nama rider Tanah Air, Dimas Ekky Pratama, sempat santer dikabarkan akan jadi rider kedua, mengingat ia sudah pernah turun di Moto2 sepanjang 2019, dan telah dilibatkan dalam banyak pertemuan MRTI dengan media massa. Namun, pada Rabu (23/12/2020), Pertamina Mandalika SAG Team justru mengumumkan bahwa Bo Bendsneyder lah yang akan jadi rider kedua mereka.

Bendsneyder yang berkebangsaan Belanda, punya hubungan ‘spesial’ dengan Indonesia, mengingat ia memiliki darah Merah Putih dari kakek dan neneknya yang berasal dari Surabaya. Ia sendiri sudah turun di Grand Prix sejak Moto3 2016. Tahun depan pun menjadi tahun keempatnya di Moto2, dan jadi kans pertamanya menjajal Kalex usai hanya pernah mengendarai Mistral dan NTS.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *