Peringati HUT RI, Sastrawan Adri Darmadji Ungkap Keresahan Lewat Puisi Sejumlah Anak

Peringati HUT RI, Sastrawan Adri Darmadji Ungkap Keresahan Lewat Puisi Sejumlah Anak

PASARLIGA, – Merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-74, sastrawan sepuh Adri Darmadji Woko membacakan puisi berjudul Sejumlah Anak di Graha Yesyurun, Tangerang, Banten, Jumat (17/8). Penulis antologi puisi Cicak-Cicak di Dinding ini membawa renungan kemerdekaan atau tirakatan semakin hikmat.

Menurut Adri, judul puisi Sejumlah Anak ini sengaja dipilihnya pada usia Indonesia yang ke-74. Walau sudah merdeka, namun masalah sosial masih saja ada di hadapan masyarakat Indonesia. Berbagai masalah yang ada adalah ancaman bagi keutuhan Indonesia.

“Saya membacakan puisi Sejumlah Anak, sebagai potret keadaan banyak anak, terutama kita, besar seperti Jakarta, yang mencerminkan dan mewakili anak-anak Indonesia menuju hari esok,” kata Adri.

Pada acara renungan malam kemerdekaan kali ini, Adri berpesan untuk bersyukur atas kemerdekaan yang sudah dirasakan dan dinikmati bersama. Senada dengan yang disampaikan oleh Adri, Barisan Rakyat Satu Juni (Barak 106), GMKI Serang dan STT Setia selaku penyelenggara ingin mengokohkan Indonesia melalui semangat gotong royong.

“Ancaman persatuan Indonesia yang semakin nyata harus direspons serius oleh segenap warga bangsa. Sejarah Pancasila Satu Juni pun ingin dikaburkan oleh sekelompok orang. Untuk menjawab perpecahan di Indonesia, Pancasila 1 Juni 1945 adalah jawabannya,” ungkap Ketua Umum Barak 106, Martin Siahaan.

Pancasila, tambah Martin, membutuhkan penyegaran. Dia mengibaratkan sebuah perangkat teknologi. Apabila terlalu banyak sampah maka perangkat tersebut harus di-refresh agar perangkat tersebut kembali optimal untuk beroperasi.

“Pancasila on refresh pada usia Indonesia yang ke-74, sampah yang melekat harus dibersihkan untuk Persatuan Indonesia,” pungkasnya.

Acara Tirakatan ini ditutup dengan pembagian hadiah perlombaan kepada para pemenang yang juga mahasiswa dari STT Setia Jakarta. Perlu diketahui, STT Setia Jakarta adalah salah satu kampus yang masih mempertahankan tradisi dengan tidak mengutip biaya pendidikan kepada setiap mahasiswa.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.